Mengenal Hepatitis B dan Gejalanya

Mengenal Hepatitis B dan Gejalanya

SAAT ¡ni, ada 450 juta orang hidup, mengidap hepatitis B kronik di seluruh dunia, dengan 75%-nya berada di Asia. Sekitar 25 – 40% pembawa virus hepatitis B kronis akan meninggal karena sirosis hati dan kanker hati, atau setidaknya satu juta orang meninggal setiap tahunnya. Menurut Dr. dr. Irsan Hasan di Indonesia 1dan 10 penduduk Indonesia mengidap hepatitis B. Sebagian besar tidak menyadari sampai timbul komplikasi (terlambat).
Pada penderita hepatitis B, 5-10% penderitannya akan mengalami kanker hati dan 30% akan mengalami sirosis. Hepatitis B kronis adalah penyebab ke enam dilakukannya transplantasi hati di Amerika.

PERJALANAN PENYAKIT
Menurut dr. Irsan, penularan hepatitis B dapat secara vertical maupun secara horizontal. Penularan secara vertical dapat terjadi dan ibu yangmengidap virus hepatitis B ke bayi yang dikandung atau dilahirkan.

Secara horizontal seperti tindik, narkotika, trasfusi darah, hubungan seks berisiko, suntikan dan tattoo. Dalam perjalanan hepatitis B, ada satu fase bernama fase knonis. National Initiative of Health membahas masalah hepatitis B kronis dalam konferensi 5-6 tahun lalu. Mereka menyatakan bahwa pasien harus dikaraktenisasi menjadi fase imunotoleran, fase imunoaktif yang disebut juga hepatitis B fase kronis, atau karier dengan virus in aktif.
Fase imunotoleran adalah e-antigen positif jadi tipe virusnya adalah wild type, DNA tinggi, tetapi kadar ALT-nya normal.

Hati yang tidak sehat

Hati yang tidak sehat

Pasien-pasien ini umumnya terinfeksi saat lahir atau pada usia dini, ketika sistim kekebalan tubuh belum matang dan virus tidak dianggap sebagai benda asing. Mereka terlahir dengan infeksi ini, sehingga sistim kekebalan tidak melihat virus sebagai benda asing, sehingga tidak ada reaksi sistim kekebalan tubuh terhadap virus. Namun, pada satu saat, karena alasan yang belum diketahui, sesuatu memicu dan sistim kekebalan mulai melihat virus sebagai benda asing. Saat itulah enzim hati meningkat. Ini adalah fase imunoaktif, yakni ketika sistim kekebaIan menjadi aktif melawan virus.

DIAGNOSIS INFEKSI HEPATITIS B
Diagnosis inveksi hepatiotis B dapat silakukan melalui pemeriksaan biokimia, serologi, virology dan histology. Secara serologi pemeniksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA.

Salah satu pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktifitas nekroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang meningkat menunjukkan proses nekroinflamasi Iebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi anti viral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif.

Tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral. Ukuran spesimen biopsi yang representatifaclalah 1-3cm (ukuran panjang) dan 1,2-2 mm (ukuran diameter) baik menggunakan jarum Menghini atau Tru-cut. Salah satu metode penilaian biopsi yang sering digunakan adalah dengan Histologic Activity Index score.

PENGOBATAN
Tujuan terapi hepatitis B kronis adalah untuk mengeliminasi secara bermakna neplikasi VHB dan mencegah prognesi penyakit hati menjadi sinosis yang berpotensial menuju gagal hati, dan mencegah karsinoma hepatoselular. Sasaran pengobatan adalah menurunkan kadan HBV DNA serendah mungkin, serokonversi HBeAg dan normalisasi kadar ALT.

CATEGORIES
TAGS
Share This